Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    yusranpauwah.com
    • Home
    • Categories
      • Parlemen
      • News
      • Urban
      • Social
      • Tourism
      • Fishery
    • Portfolio
    • About
    • Contact
    Facebook X (Twitter) Instagram
    yusranpauwah.com
    Parlemen

    Jangan Sekadar Merebut Kekuasaan, Tapi Gagal Menggunakannya

    YPBy YPMei 5, 2026Updated:Mei 25, 2026Tidak ada komentar2 Mins Read

    Tulisan ini seharusnya tidak berhenti sebagai kritik ke luar, melainkan berani diarahkan kembali kepada diri sendiri. Karena bisa saja, tanpa disadari, apa yang selama ini dikritik justru menjadi cermin dari sikap dan cara berpikir kita sendiri. Ada kecenderungan untuk fasih berbicara tentang kekuasaan—tentang bagaimana ia harus digunakan, tentang pentingnya visi, tentang dampak bagi rakyat—namun pada saat yang sama, belum tentu semua itu benar-benar dipahami sebagai tanggung jawab yang konkret.

    Merebut kekuasaan memang membutuhkan strategi, keberanian, dan daya tahan. Tetapi menggunakan kekuasaan menuntut sesuatu yang lebih dalam: kapasitas, keteguhan sikap, dan kejelasan arah. Di titik ini, pertanyaannya menjadi lebih personal—apakah selama ini cara berpikir tentang kekuasaan sudah cukup matang, atau justru masih terjebak pada bayangan bahwa posisi adalah tujuan akhir?

    Ada kemungkinan bahwa semangat untuk mengkritik lahir dari kekecewaan melihat realitas yang tidak ideal. Namun kritik tanpa refleksi diri berisiko menjadi kosong. Mudah menunjukkan kelemahan orang lain, tetapi jauh lebih sulit memastikan bahwa diri sendiri tidak akan jatuh pada pola yang sama: sibuk pada simbol, lalai pada substansi; fokus pada posisi, tetapi kehilangan arah dalam menjalankan peran.

    Jika suatu saat berada dalam posisi menentukan, apakah sudah siap dengan peta jalan yang jelas? Apakah sudah memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang tidak populer tetapi penting? Ataukah justru akan mengikuti arus, bermain aman, dan akhirnya menjadi bagian dari masalah yang selama ini dikritik?

    Tulisan ini pada akhirnya bukan sekadar pengingat, tetapi juga pengujian. Bahwa kekuasaan tidak boleh hanya dipahami sebagai sesuatu yang harus diraih, melainkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Dan sebelum sampai ke sana, refleksi harus dimulai dari sekarang—dari cara berpikir, dari cara memandang jabatan, dan dari kejujuran untuk mengakui bahwa perubahan tidak cukup hanya dituntut dari orang lain.

    Karena kritik yang paling jujur bukan yang paling keras kepada orang lain, tetapi yang paling berani diarahkan kepada diri sendiri.

    catatan maju menggunakan rebut
    YP
    • Website

    Related Posts

    Publik Pertanyakan Hasil Nyata Pertemuan Sherly Tjoanda dengan AHY

    Mei 25, 2026

    Transformasi Digital Pemerintahan Harus Berbasis Pelayanan, Bukan Sekadar Pencitraan Digital

    Mei 24, 2026

    Besarnya Tuntutan Harus Mencerminkan Persebaran Suara dan Legitimasi Rakyat

    Mei 24, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Recent Posts

    • Komisi IV DPRD Provinsi Maluku Utara Kunjungi Keluarga Jemaah Haji Kepulauan Sula yang Wafat di Tanah Suci
    • Ketua DPD SPN Maluku Utara Minta Gerai Indomaret dan Alfamart Tidak Ditutup oleh Wacana Kopdes
    • Publik Pertanyakan Hasil Nyata Pertemuan Sherly Tjoanda dengan AHY
    • Transformasi Digital Pemerintahan Harus Berbasis Pelayanan, Bukan Sekadar Pencitraan Digital
    • Besarnya Tuntutan Harus Mencerminkan Persebaran Suara dan Legitimasi Rakyat

    Recent Comments

    Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

    Archives

    • Juni 2026
    • Mei 2026
    • April 2026
    • Maret 2026
    • November 2018
    • Mei 2018
    • September 2017
    • Juni 2017
    • Februari 2017

    Categories

    • Fishery
    • News
    • Parlemen
    • Social
    • Tourism
    • Urban
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.